Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Thursday, January 16, 2014

Fragmen Minggu Pagi

Ini minggu ke berapa aku  jatuh cinta kepadamu?

Aku kehilangan hitungan

Di jarum jam bayanganmu tak pernah padam

Mengukir rindu dengan pendulum waktu


Aku ingin pagi ini

Sebutir embun menyentuh wajahmu sebagai tanganku

Atas berkas sinar matahari menghangatkan sebagaimana
doaku

Ini lagu ke berapa yang ku dengarkan sejak jatuh cinta

kepadamu?


Telingaku telah lama buta dan tak kuasa memilah warna
suara
Tapi aku mampu mendengarkan gerak tubuhmu di udara

Menyadari kehadiranmu di tiap rongga

yang di huni selaksa malaikat pemintal cahaya


Di gelasku membekas wajahmu

Yang senantiasa ingin ku teguk hingga tandas segala dahaga
asmara
Hingga kau mengarus di jeram darahku


Cintaku, dengan apa aku harus menyebutmu?


Jika di hari Minggu semua kata terbakar

Dan setiap nama kehilangan pembeda

Aku akan terpejam , menghirup dalam diam

Dan kau akan melintas deras di tiap tarikan nafas 



Gunawan Tri Atmodjo
Surakarta, 2013


Suara Merdeka, 8 Desember 2013

 

Monday, August 12, 2013

Asal Usul Kota Magelang

Dahulu kala Kerajaan Pajang dengan rajanya bernama Sultan Hadiwijaya. Sedangkan Kadipaten Jipang dipimpin olah Arya Penangsang. Kedua tokoh tersebut saling berselisih. Arya Penangsang dikenal sebagai orang yang sombong, karena keampuhannya. Perselisihan kedua tokoh tersebut mengakibatkan perang sehingga banyak korban berjatuhan dari kedua daerah.

Saat pertempuran itu terjadi, Hadiwijaya memberi kepercayaan kepada Danang Sutawijaya sebagai panglima perang. Danang Sutawijaya adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya. Danang sebagai senopati perang didampingi oleh Ki Gede Pemanahan.

Dengan semangat yang tinggi dan bekal senjata tombak Kyai Pleret, mereka berdua pergi melaksanakan perintah Sultan Hadiwijaya ke medan perang. Mereka beserta rombongan agar selamat dalam medan perang, dianjurkan tidak melalui sungai atau menyeberangi sungai. Karena kelemahan mereka terdapat pada air atau sungai, yang dapat mengakibatkan kekalahan.
Ketika peperangan terjadi, Arya Penangsang tewas oleh Danang Sutawijaya dengan tombak Kyai Pleret. Dengan tewasnya Arya Penangsang anak buahnya menjadi kalang kabut. Maka menanglah pihak Danang Sutawijaya. Sutawijaya didampingi Ki Gede Pemanahan beserta seluruh pasukannya kembali ke Pajang dengan membawa kemenangan. Gembiralah hati Sultan Hadiwijaya mendengar laporan kemenangan dari Sutawijaya. Sebagai balas jasa, atas keberhasilan Sutawijaya, maka Sultan menghadiahkan tanah di daerah hutan Mentoak kepada mereka berdua.
Sejak saat itu Sutawijaya dan Ki Gede Pemanahan mulai mengubah hutan Mentoak dan membangunnya menjadi sebuah kerajaan. Maka berdirilah kerajaan Mataram. Dengan rajanya Danang Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati. Kerajaan Mataran di bawah pemerintahan Panembahan Senopati menjadi sebuah kerajaan besar yang mempunyai pengaruh luas.
Kemudian muncullah niat Panembahan Senopati untuk memperluas wilayah kerajaan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Panembahan Senopati minta pendapat kepada Ki Gede Pemanahan. Nasihat yang diberikan Ki Gede Pemanahan yaitu memperkuat bala tentaranya sehingga dapat digerakkan untuk menaklukkan wilayah bagian lain.
Langkah pertama yang ditempuh yaitu membuka daerah membuka daerah hutan di Kedu. Konon Hutan Kedu tersebut masih merupakan semak belukar yang masih angker. Karena tempat tersebut tidak pernah dikunjungi manusia. Menurut kepercayaan masyarakat setemppat, Hutan Kedu itu merupakan kerajaan Jin dengan rajanya bernama Jin Sepanjang. Untuk menghadapi segala kemungkinan, maka ditunjuknya Pangeran Purbaya sebagai Senopati perang.
Hari yang ditentukan telah tiba untuk membuka hutan Kedu. Pangeran Purbaya beserta rombongan dengan membawa pusaka kerajaan Mataram, untuk membuka hutan Kedu. Tatkala hutan Kedu mulai dibuka, dan masuklah bala tentara Mataram untuk mengobrak-abrik hutan tersebut murkalah raja Jin Sepanjang. Raja Jin Sepanjang memerintahkan pasukannya untuk menggempur bala tentara pimpinan Pangeran Purbaya. Maka terjadilah pertempuran hebat antara pasukan kerajaan Mataram melawan pasukan kerajaan Jin. Akhirnya bala tentara Jin terpukul mundur. Raja Jin Sepanjang melarikan diri dan lolos dari kepungan pasukan Mataram. Desa hutan Kedu yang sudah dapat dikuasai olah pasukan Mataram, sebagai desa yang indah pemandangannya, subur tanhnya, dan damai penduduknya. Dalam desa tersebut hiduplah seorang petani bernama Kyai Keramat dan istrinya bernama Nyai Bogem. Sedangkan anaknya bernama Rara Rambat. Rara Rambat sebagai seorang gadis yang rupawan. Mereka bertiga hidup tenteram di desa tersebut.
Pada suatu hari Rara Rambat dan pengasuhnya mencari dedaunan dan berbagai bunga di sepanjang jalan hutan, untuk dijadikan obat-obatan. Karena asyiknya, mereka tak menyadari bajwa di hadapannya telah berdiri seorang pemuda tampan. Rara Rambat dan pengasuhnya terkejut, bahwa di depannya ada seorang pemuda. Jejaka itu pendamping Pangeran Purbaya. Ia tertinggal oleh pasukan bala tentara Mataram tatkala menyerang bala tentara jin.
Terjadilah dialog antara kedua remaja tersebut. Bertanyalah jejaka tersebut: “Siapakah engkau ini berdua di dalam hutan?” Jawab Rara Rambat: “Aku adalah Rara Rambat, rumahku ada di dalam hutan ini.” Berkatalah jejaka tersebut: “Aku adalah Raden Kuing, anggota pasukan bala tentara Mataram.” Semenjak percakapan itu, Raden Kuning terpikat oleh kecantikan Rara Rambat. Kemudian diungkapkannya isi hati Raden Kuning kepada Rara Rambat. Mendengar ucapan Raden Kuning, malu hati Rara Rambat.

Larilah Rara Rambat menuju rumahnya. Peristiwa tersebut diceritakan kepada orang tuanya yaitu Kyai Keramat dan Nyai Bogem. Kedua orang tuanya gembira sekali mendengar kejadian yang diceritakan anaknya. Melihat Rara Rambat lari meninggalkannya, Raden Kuning mengikuti dari belakang. Sampailah Raden Kuning di rumah orang tua Rara Rambat.
 
Waktu bertemu dengan orang tua Rara Rambat, mereka saling memperkenalkan diri. Tak lama kemudian, Raden Kuning meyatakan maksudnya untuk meminang Rara Rambar. Orang tua Rara Rambat senang sekali mendengar maksud Raden Kuning untuk meminang anaknya. Mereka sangat gembira akan mempunyai menantu seorang pangeran dari Kerajaan Mataram. Sesudah pernikahan dilangsungkan Mataram berhasil memporak-porandakan kerajaan Jin yang bersemayam di Hutan Kedu. Raja Jin Sepanjang berusaha membalas dendam. Dicarinya jalan bagaimana ia dapat menggempur pasukan kerajaan Mataram.
Raja Jin Sepanjang mempunyai cara dengan menyamar sebagai manusia dengan nama Sonta. Sonta pergi ke rumah Kyai Keramat untuk dapat mengabdi kepadanya. Tentu saja Kyai Keramat menerimanya. Ia tidak melihat sikap keangkuhan Sonta. Dan juga tidak diketahuinya bahwa Sonta itu jelmaan Jin.Senang hati Sonta dikabulkan permintaannya. Niat jahat Sonta untuk membalas dendam mulai dilaksanakan. Dengan kesaktiannya, ia menyebarkan penyakit, sehingga muncullah wabah di desa tersebut. Kesengsaraan rakyat di desa itu tak terperikan, juga menimpa pasukan Mataram. Banyak penduduk menjadi sedih dan meninggal. Bahkan pasukan tentara Mataram banyak yang meninggal dunia karena terserang wabah.
Akhirnya malapetaka yang melanda pedesaan tersebut diketahui juga oleh Pangeran Purbaya. Gelisahlah hari Pangeran Purbaya. Maka melaporlah Pangeran Purbaya kepada Panembahan Senopati. Setelah mendengar laporan dari Pangeran Purbaya, Panembahan Senopati meninggalkan singgasana menuju ke kamar pertapaannya. Di tempat tersebut Panembahan Senopati mengadakan kontak dengan Nyai Roro Kidul dan minta nasihat apa yang perlu dilakukan setelah terjadi malapetaka di desa tersebut. Sesudah selesai bertapa, keluarlah Panembahan Senopati menyampaikan nasihat yang diterima dari Nyai Roro Kidul kepada Pangeran Purbaya.

Pada waktu itu Sonta sedang menikmati balas dendamnya dengan senang hati. Sonta merasa gembira karena telah berhasil menyengsarakan pasukan Mataram dari penduduk desa tersebut. Bagi Kyai Keramat yang lagi menikmati istirahatnya, agak terkejut melihat Pangeran Purbaya beserta pengiringnya datang di rumahnya. Pangeran Purbaya memberitahukan bahwa kedatangannya ialah bermaksud memberi tahu bahwa pembuat malapetaka di desa itu adalah Sonta, abdi Kyai Keramat. Tentu saja Kyai Keramat gugup mendengar pemberitahuan dari Pengeran Purbaya. Menurut Kyai Keramat, Sonta itu seorang abdi yang lugu, yang tidak mempunyai keistimewaan.
Mendengar pembicaraan Pangeran Purbaya dengan Kyai Keramat tersebut, Sonta lari meninggalkan rumah Kyai Keramat. Kepergian Sonta itu diketahui Kyai Keramat dari bayang-bayang Sonta. Dikejarnya Sonta. Sesampai di suatu tempat terjadilah adu kekuatan antara Sonta dan Kyai Keramat. Ternyata Sonta itu penyamaran dari Jin Sepanjang. Dan Sonta lebih sakti daripada Kyai Keramat. Maka tewaslah Kyai Keramat. Sedang Raja Jin Sepanjang atau Sonta kabur meninggalkan tempat itu. Pangeran Purbaya mengetahui perkelahian antara dua orang sakti tersebut, tidak dapat mencegahnya. Akhirnya jenazah Kyai Keramat dimakamkan di tempat perkelahian itu. Dan tempat tersebut sampai sekarang dinamai Desa Keramat. Nyai Bogem melihat mayat suaminya, marahlah ia mengejar Sonta yang melarikan diri ke arah timur. Ternyata Nyai Bogem dapat mengejar Sonta di suatu tempat. Terjadilah pertempuran antara Sonta dan Nyai Bogem. Karena kesaktian Sonta yang tidak tertandingi, tewaslah Nyai Bogem. Pangeran Purbaya memerintahkan agar mayat Nyai Bogem dimakamkan di tempat pertempuran itu. Sampai sekarang tempat tersebut dinamai Desa Bogeman.
Melihat peristiwa beruntun, yaitu kematian Kyai Keramat dan Nyai Bogem maka Pangeran Purbaya memerintahkan Tumenggung Mertoyuda untuk membinasakan Sonta. Dalam pertempuran antara Sonta dan Tumenggung Mertoyuda, ternyata Sontalah yang unggul dalam pertempuran tersebut. Tewaslah Tumenggung Mertoyuda. Kemudian Pangeran Purbaya, memerintahkan agar jenazah Mertoyuda dimakamkan di tempat pertempuran tersebut. Maka desa tersebut dinamai Mertoyuda.
Kematian demi kematian terjadi, sampai Tumenggung Mertoyuda bernasib naas di tangan Sonta. Hal itu membuat perasaan Raden Krincing tersinggung sebagai salah satu Senopati andalah kerajaan Mataram. Raden Krincing bersikeras ingin membinasakan Sonta. Pertempuran terjadi, Sonta tidak dapat dikalahkan. Tewaslah Raden Krincing.
Pangeran Purbaya sedih hatinya melihat kejadian tersebut. Untuk mengenang jasa Raden Krincing, Pangeran Purbaya memerintahkan jenazahnya dimakamkan di tempat itu. Dan tempat tersebut dinamai Desa Krincing hingga kini. Berbagai kejadian yang dialami dan dilihat Pangeram Purbaya, membuat Pangeran Purbaya marah besar. Kemudian Pangeran Purbaya memerintahkan pasukannya untuk membinasakan Sonta. Dengan segala kekuatan, Sonta terus menghindar masuk dalam hutan. Meskipun Sonta menghindar, pasukan Mataram terus melacaknya.
 
Dengan menakjubkan Pangeran Purbaya bisa melihat Sonta dari ketinggian pohon besar. Dihajarnya Sonta hingga jajtuh terjerembab ke tanah. Pertempuran hebat terjadi. Ternyata Pangeran Purbaya memiliki kesaktian yang lebih hebat dari Sonta. Tatkala Sonta tewas, kemudian menjelma kembali menjadi Raja Jin Sepanjang. Oleh Pangeran Purbaya, daerah pertempuran itu dinamakan Desa Santan.
 
Jin Sepanjang terus didesak oleh bala tentara Mataram. Timbullah pertempuran lagi yang sangat dasyat. Akhirnya Jin Sepanjang tewas oleh Pangeran Purbaya. Tiba-tiba hutan menjadi gelap semua bersamaan dengan matinya Jin Sepanjang. Sedikit semi sedikit hutan yang semula gelap menjadi terang kembali bersama dengan hilangnya Jin Sepanjang. Hilang Jin Sepanjang kemudian menjadi sebatang tombak. Pangeran Purbaya tidak berminat memiliki tombak bertuah karena jelmaan dari Jin Sepanjang yang berwatak tidak baik. Kemudian Pangeran Purbaya memerintahkan prajurit untuk memanam tombak tersebut di tempat itu juga. Tempat tersebut dinamai Desa Sepanjang. Ketika pengepungan yang dilakukan pasukan Mataram terjadi Sonta dan karena rapatnya maka dikatakan “tepung gelang”, karena mengepung rapat seperti gelang. Pangeran Purbaya menyebut tempat terjadinya pengepungan bernama “Magelang”. Sekarang menjadi kota dagang yang maju dengan nama “Magelang”.


Thursday, August 8, 2013

Goa Seplawan, Purworejo

Goa Seplawan terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing dengan jarak tempuh + 20 km ke arah Timur dari pusat kota Purworejo dengan ketinggian 700 m dpl sehingga udaranya sangat sejuk. Goa ini memiliki ciri khusus berupa ornamen yang terdapat di dalam goa, antara lain staklatit, staklamit, flowstone, helekit, soda straw, gower dam dan dinding-dindingnya berornamen seperti kerangka ikan. Panjang Goa Seplawan + 700 m dengan cabang-cabang goa sekitar 150-300 m dan berdiameter 15 m. Goa alam yang sangat menakjubkan ini menjadi semakin terkenal dengan diketemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi seberat 1,5 kg pada tanggal 28 Agustus 1979 yang sekarang arca tersebut disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Tempat lain yang juga terkait dengan sejarah Kabupaten Purworejo adalah Goa Seplawan, yang berada di wilayah Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing. Goa ini menjadi istimewa karena disebut-sebut dalam Prasasti Kayu Arahiwang. Dalam prasasti itu dengan jelas disebutkan bahwa salah satu tempat yang harus dijaga karena kesuciannya adalah Goa Seplawan. 

Dan agaknya hal itu memang benar. Karena saat pertama kali ditemukan pada tanggal 28 Agustus 1979, di dalam salah satu lorong goa ditemukan sebuah arca sepasang dewa dewi yang terbuat dari emas murni. Keberadaan patung sepasang dewa dewi yang tak lain adalah Dewa Syiwa dan Dewi Parwati ( seberat 1,5 kg ) tersebut, menunjukkan kalau Goa Seplawan sebelumnya dijadikan sebagai tempat pemujaan. 

Patung itu kemudian dibawa ke Jakarta dan disimpan di Musium Nasional Jakarta. Sebagai gantinya pemerintah membuatkan replika patung itu tepat di depan mulut goa. Tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada para pengunjung bahwa goa ini pada dasarnya adalah tempat suci yang disakralkan oleh masyarakat pada zaman dulu. Selain sakral, goa ini juga memiliki keindahan yang sangat luar biasa. Hamparan stalaktit dan stalagnit di setiap lorong goa, menciptakan kesan tersendiri bagi para pengunjung goa. Tak hanya itu gemericik air yang menetes dari bebatuan penyusun goa mampu menenangkan hati siapapun yang masuk ke dalamnya. 

Goa ini memiliki panjang + 700 meter dengan cabang-cabang goa sekitar 150 – 300 meter dan berdiameter 15 meter. Sehingga untuk masuk ke dalam goa, pengunjung harus menyusuri anak tangga menurun yang cukup melalahkan. Yang mana rasa lelah itu akan segera hilang begitu mulai memasuki mulut goa. Sebab dari mulut goa itu saja keindahan ukiran batu di dalam goa sudah terlihat jelas. 

Makanya tak heran kalau pengunjung betah berlama-lama tinggal di dalam goa tersebut. Bahkan terkadang ada orang yang sengaja masuk dan tinggal selama beberapa hari di dalam goa untuk melakukan ritual. Dan hal ini bisa diketahui dari aroma hioswa dan minyak wangi yang menyeruak dari salah satu ruangan di dalam gua tersebut. Karena agaknya ruangan tersebut memang kerap dipakai untuk menggelar ritual. 

Ritual di dalam goa itu sebenarnya adalah rangkaian dari ritual yang biasa dilakukan di Candi Gondoarum yang berada tidak jauh dari Goa Seplawan. Candi Gondoarum sendiri saat ini nyaris tak berbentuk lagi. Yang tersisa hanyalah bekas-bekas pondasi dasar candi, yang sepintas terlihat mirip batu biasa yang berserakan. Hanya saja yang membedakan adalah, adanya beberapa guratan ukiran pada beberapa sisi batu yang bila dirangkai bisa saling berhubungan. 

“ Candi ini diduga lebih tua dari pada Candi Borobudur. Dan disebut Gondoarum karena waktu lingga yoninya diangkat, keluar semerbak bau harum. Sehingga sampai sekarang tidak ada orang yang berani berbuat jelek di tempat ini. “ 

Letak lingga yoni itu sendiri tepat di samping candi, dan sekarang telah dibuatkan satu cungkup sederhana untuk melindunginya. Sebenarnya pihak museum berniat mengamankan benda itu. Namun sepertinya “ penunggu “nya tidak mengijinkan. Sehingga sampai sekarang batu yang merupakan simbol penyatuan kehidupan tersebut tetap dibiarkan di tempat semula. 

Disamping Potensi Wisata Goa Seplawan di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing juga terdapat Potensi Hasil Ternak yaitu Hasil Ternak Kabing Etawa. Kabing Perankan Etawa ( PE ) merupakan keturunan kambing Etawa asal India yang dibawa oleh penjajah Belanda yang kemudian disilangkan dengan kambing lokal di Kaligesing. Pada saat ini kambing PE ini dikenal sebagai Ras Kambing Peranakan Etawa asli Kaligesing Purworejo. 

Menurut perkembangannya kambing PE menyebar ke berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo bahkan keluar Purworejo ( Kulon Progo, Kendal, Sidoarjo Jatim ). Kambing PE ini mempunyai ciri khas yaitu : bentuk muka cembung, telinga panjang menggantung, postur tubuh tinggi ( gumba ) 90 – 110 cm, bertanduk panjang dan ramping. Kambing berkembang dengan baik panjang dan besar, warna bulu beragam belang putih, merah coklat, bercak-bercak hitam atau kombinasi ketiganya, dan pada bagian belakang terdapat bulu yang lebat dan panjang. 

Dalam waktu yang tidak lama lagi kawasan gua ini akan dikembangkan menjadi sarana olah raga seperti layang gantung ( gantole ), camping, hiking, panjat tebing, dan keadaan alam sekitarnya sangat mendukung untuk kegiatan avonturir.

Sunday, March 17, 2013

Contoh Penutup pada sebuah Laporan Perjalanan



BAB III
PENUTUP

A.  Simpulan
   Bali sangat kaya akan potensi keindahan alamnya dan obyek wisatanya. Obyek wisata di Bali dapat menjadi rujukan dan teladan wilayah lain untuk mengembangkan potensi daerah masing-masing agar wilayahnya semakin maju dan dapat menciptakan lapangan pekerjaan sendiri.
B.    Saran
   Dari perjalanan Outdoor Learning ke Bali, ada beberapa kekurangan. Oleh karena itu, penulis menyarankan beberapa hal berikut ini, antara lain agar pemerintah Bali mempermudah ibadah bagi warga Muslim dan menyediakan tempat beribadah atau solat di berbagai obyek wisata maupun tempat umum lainnya. Selain itu penulis juga menyarankan agar kebersihan obyek wisata perlu di tingkatkan seperti saat di Tanjung Benoa yang lautnya terdapat banyak sampah. Disarankan juga tempat parkir di Dreamland tidak terlalu jauh dengan pantai karena para pengunjung banyak yang mengeluh kelelahan. Pada saat bus akan kembali, bus hanya akan berjalan satu persatu dan menyebabkan para pengunjung menunggu dengan waktu yang cukup lama di beberapa titik. Hal itu dapat juga mengganggu pemandangan saat akan memasuki kawasan Pantai Dreamland.

Info Unik Di Sini!


Bluefire adalah fenomena alam satu-satunya di Indonesia yang bisa disaksikan di Kawah Ijen, Jawa Timur. Sementara di dunia ini, fenomena serupa bisa ditemukan di Islandia. Sesuai namanya, bluefire di Kawah Ijen adalah penampakan api berwarna biru yang muncul di antara jam satu sampai dua dini hari.




Kalau lagi liburan ke Bangkok, jangan lupa mampir ke Kampung Jawa yang ada di distrik Sathorn. Kampung ini sudah ada sejak 70 tahun yang lalu. Masyarakat kampung Jawa dibawa tentara Jepang ke Sathorn pada masa Perang Dunia II (1939-1945) untuk bekerja di perkebunan atau proyek Jepang yang ada di Bangkok. Kultur Jawa di distrik ini sangat terasa, bahkan masjid yang ada disana dinamakan Jawa Mosque.





Sultan Hamengku Buwono X adalah gubernur pertama Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang dilantik langsung oleh Presiden RI pada 10 Oktober 2012 lalu. Selama ini, gubernur DIY enggak pernah dilantik karena masa tugas Sultan menjadi gubernur cukup melaui surat perpanjangan. Tapi, sejakadanya Undang-Undang Keistimewaan di Yogyakarta, gubernur dan wakilnya yaitu Paku Alam IX harus dilantik Presiden. Pelantikan dilakukan di Istana Kepresidenan Gedung Agung, Yogyakarta.



 
Kelinci Belang Sumatra diyakini sebagai satwa endemik dari Sumatra karena hanya ditemukan di Indonesia dan enggak ada di tempat lain. Kelinci Belang Sumatra masuk kategori binatang nokturnal yaitu hewan yang tidur pada siang hari dan aktif di malam hari. Ciri khusus kelinci ini adalah ukuran telinga dan ekornya lebih pendek dianding kelinci jenis lain.



Patung Jendral Sudirman enggak cuma bisa kita temukan di Dukuh Atas, Jakarta. Patung pahlawan yang dikenal sebagai Bapak TNI juga ada di halaman Markas Besar Kemetrian Pertahanan Jepang, Tokyo. Didirikannya patung ini menjadi penanda peningkatan hubungan antara Indonesia dan Jepang, khususnya di bidang pertahanan. Bangga, deh, kalo pahlawan RI juga dikenal di dunia internasional.



 

Ngaku, deh, pasti banyak dari kita yang merasa suaranya lebih merdu kalau nyanyi di kamar mandi. Betul banget, nih. Suara kita jadi lebih tebal dan merdu karena tembok yang mengelilingi kamar mandi membuat suara kita jadi memantulkan getaran dan memberi gaung yang jernih. Selain itu juga suara jadi merdu berkat bentuk dan material kamar mandi yang berfungsi seperti sound-mixer berteknologi rendah.




Black ivory coffee yang tersedia di The Anantara Hotel & Resorts di Thailand menggeser kedudukan kopi luwak sebagai kopi termahal di dunia. Hanya ada sekitar 50 kilogram biji kopi black ivory yang tersedia Golden Triangle Asian Elephant Foundation di Thailand. Setiap kilonya dihargai 1.100 dolar (sekitar 10 juta rupiah) dan per cangkir dijual seharga 50 dolar. Delapan persen dari penjualan kopi akan dikembailkan kepada Golden Triangle Asian Elephant Foundation, sebuah organisasi pelestarian gajah Asia di Thailand.



Kopi black ivory ini berasal dari kotoran gajah. Gajah diberi makan biji kopi Thai Arabica yang hanya tumbuh di ketinggian 5.000 kaki di atas permukaan laut. Untuk memproduksi satu kilogram biji kopi, para gajah ini harus memakan lebih dari 32 kilogram biji kopi. Saat dicerna gajah, enzim usus gajah menghancurkan protein kopi. Karena rasa pahit dalam koopi bergantung pada jumlah protein di kopi, maka semakin sedikit protein dalam kopi, rasa pahitnya semakin berkurang.




Di China, jomblo punya satu hari khusus bernama Singles Day untuk dirayakan bersama-sama para jomblo lainnya. Singles Day atau yang dalam bahasa mandarin disebut guangging jie dirayakan tiap tanggal 11 November, karena tanggal ini terdiri dari empat angka satu yang diidentikkan dengan single. Seperti layaknya Valentine’s Day, di hari ini banyak toko di China yang memberikan diskon khusus untuk pembelinya.





 Deepavali adalah festival cahaya yang dirayakan oleh pemeluk Agama Hindu selama lima hari berturut-turut dalam kalender Hindu bulan Ashwayuja. Biasanya diselenggarakan pada bulan Oktober atau November. Festival ini menandakan kemenangan hal baik melawan hal buruk. Festival biasanya dirayakan dengan memakai baju baru, membagikan permen, dan menyalakan kembang api.


sumber :majalah kaWanku